Dari Tenaga Ahli Penanganan COVID-19 hingga Analis BNPB: Ahmad Muhammad Humangi, Alumni Psikologi UNESA Bagikan Perjalanan Kariernya
Ahmad Muhammad Humangi adalah seorang alumni psikologi unesa
angkatan 2010 yang saat ini sedang berkarier sebagai Analis Perencanaan Ahli Pertama di Direktorat
Penanganan Darurat Wilayah II, Kedeputian Bidang Penanganan Darurat, BNPB. Sebagai
analis data, Kak Ahmad bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan
menganalisis penyelenggaraan bencana, khususnya pada tahap tanggap darurat atau
saat bencana terjadi. Ia menjelaskan tentang pentingnya memahami garis besar mitigasi
dan logistik, karena masyarakat beranggapan petugas pusat menguasai segala
aspek kebencanaan. Dalam pekerjaan ini, ilmu utama yang digunakan adalah Psychological
First Aid (PFA) dan penguasaan psikologi massa yang bertujuan menenangkan orang-orang
saat terjadi bencana besar.
Perjalanan karier Kak Ahmad hingga berada di posisi saat ini
cukup beragam. Mulai dari konselor sekolah, asisten psikolog di RSUD Sidoarjo,
hingga menjadi tenaga ahli psikologi untuk penanganan COVID-19 di RS Dr.
Soetomo Surabaya. Pada tahun 2023, mengikuti seleksi CASN Pegawai Pemerintah
dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di BNPB dan berhasil lolos berkat pengalaman
yang relevan dalam penanganan darurat COVID-19.
Di balik perjalanan karier tersebut, Ahmad memiliki cerita
tersendiri mengenai alasan memilih jurusan psikologi.Ketika ditanya alasan memilih
jurusan psikologi, Ahmad Muhammad Humangi mengaku memilih psikologi karena
berpikir jurusan ini tidak berkaitan dengan hitungan matematis. Namun, seiring
berjalannya waktu, ia menyadari bahwa psikologi tetap melibatkan statistika dan
alat penyusunan yang rumit. Sebagai angkatan perintis, Ahmad Muhammad Humangi menyampaikan bahwa kondisi Fakultas Psikologi saat
ini lebih baik dibandingkan saat ia masih berkuliah dulu. Ia juga menjelaskan
kekuatan terbesar fakultas ada pada relasi alumni yang banyak di antaranya
telah sukses di berbagai bidang.
Tantangan terbesar selama berkarier menurutnya adalah
menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas di dunia kerja. Ia menilai
bahwa memiliki idealisme merupakan hal yang baik, tetapi tetap perlu diimbangi
dengan sikap realistis agar mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan tuntutan
profesional.
Menanggapi perkembangan teknologi, khususnya di era Artificial
Intelligence (AI), ia meyakini bahwa bidang psikologi masih memiliki
prospek yang sangat baik. Menurutnya, AI dapat membantu dalam banyak hal,
tetapi tidak mampu menggantikan aspek empati, kepekaan, dan hubungan
antarmanusia yang menjadi inti dari praktik psikologi.
"AI dapat membantu banyak hal, tetapi empati tetap
menjadi kekuatan yang hanya dimiliki manusia. Itulah mengapa psikologi akan
selalu relevan."
Sebagai penutup, ia membagikan prinsip hidup yang selalu
dipegang, yaitu berbuat baik kepada siapa pun tanpa mengharapkan balasan.
Baginya, kita tidak pernah tahu dari mana pertolongan akan datang di kemudian
hari. Ia juga berpesan kepada mahasiswa Fakultas Psikologi UNESA untuk berani
menekuni bidang yang benar-benar disukai. Dengan begitu, setiap proses belajar
maupun bekerja akan terasa lebih ringan karena dijalani dengan penuh minat dan
semangat.