Ketika Menjauh Menjadi Cara untuk Merasa Aman: Memahami Pola Kelekatan Menghindar dan Kecemasan
Belakangan ini, istilah avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan media sosial. Seseorang yang sulit terbuka, menarik diri ketika hubungan mulai serius, atau membutuhkan banyak ruang pribadi dengan cepat disebut sebagai pribadi yang “menghindar”. Namun, benarkah setiap orang yang menjaga jarak memiliki pola kelekatan tersebut? Dan apakah orang yang tampak tenang serta mandiri benar-benar bebas dari anxiety (kecemasan)?
Dalam psikologi, kelekatan pada orang dewasa tidak selalu dipahami sebagai kotak-kotak kepribadian yang kaku. Penelitian modern lebih sering melihatnya melalui dua dimensi utama, yaitu kecenderungan menghindari kedekatan dan kecenderungan merasa tidak aman dalam hubungan. Seseorang dapat berada pada tingkat rendah atau tinggi dalam kedua dimensi tersebut. Karena itu, avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) sebaiknya tidak digunakan seperti cap permanen yang membagi manusia menjadi “normal” dan “bermasalah”. Pola kelekatan lebih tepat dipahami sebagai kecenderungan seseorang dalam berpikir, merasakan, dan bertindak ketika kedekatan emosional terasa penting atau mengancam (Fraley et al., 2000).
Orang dengan kecenderungan avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) umumnya merasa kurang nyaman ketika harus terlalu bergantung kepada orang lain atau ketika orang lain terlalu bergantung kepadanya. Saat menghadapi tekanan, ia dapat memilih menjaga jarak, menekan kebutuhan emosional, mengalihkan perhatian dari masalah hubungan, atau berusaha menyelesaikan semuanya sendiri. Dari luar, perilaku tersebut dapat terlihat seperti ketenangan dan kemandirian. Padahal, menjaga jarak juga dapat menjadi strategi untuk mengurangi rasa tidak nyaman ketika seseorang merasa terlalu rentan secara emosional. Penelitian tentang kelekatan dan regulasi emosi menunjukkan bahwa kecenderungan menghindari kedekatan berkaitan dengan strategi “menonaktifkan” kebutuhan akan dukungan, misalnya melalui penekanan emosi dan penarikan diri (Simpson & Rholes, 2017; Mikulincer & Shaver, 2019).
Di sinilah hubungan antara avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) dan anxiety (kecemasan) menjadi menarik. Orang yang menghindari kedekatan bukan berarti tidak pernah merasa cemas. Perbedaannya mungkin terletak pada cara kecemasan itu dihadapi. Sebagian orang mencari kepastian, meminta respons, atau terus memikirkan apakah pasangannya masih mencintainya. Sebagian yang lain justru mengurangi kontak, menekan perasaan, menyibukkan diri, atau meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan siapa pun. Dengan kata lain, kecemasan tidak selalu terlihat sebagai kepanikan. Dalam kondisi tertentu, kecemasan juga dapat tersembunyi di balik penarikan diri.
Namun, penting untuk membedakan avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) dari anxious attachment (pola kelekatan yang ditandai kecemasan dan ketakutan kehilangan kedekatan). Pada pola yang kedua, ancaman terhadap hubungan cenderung memicu strategi mendekat: mencari kepastian, sangat peka terhadap perubahan perilaku pasangan, sulit tenang ketika pesan tidak segera dibalas, atau takut ditinggalkan. Sebaliknya, pola menghindar lebih sering menghadapi ancaman dengan menciptakan jarak. Sederhananya, ketika hubungan terasa tidak aman, satu orang mungkin berpikir, “Tolong jangan tinggalkan aku,” sedangkan yang lain mungkin berpikir, “Aku lebih baik tidak terlalu membutuhkan siapa pun.” Keduanya sama-sama dapat berangkat dari rasa tidak aman, tetapi mengelolanya melalui arah yang berbeda (Simpson & Rholes, 2017).
Masalah dapat menjadi semakin rumit ketika dua pola tersebut bertemu dalam sebuah hubungan. Ketika satu pihak semakin cemas lalu mengejar kedekatan, pihak lain dapat merasa semakin tertekan dan memilih mundur. Penarikan diri tersebut kemudian membuat pihak pertama semakin tidak aman dan semakin mencari kepastian. Akibatnya, terbentuk siklus “mengejar dan menjauh”: semakin satu orang mendekat, semakin yang lain mundur; semakin yang lain mundur, semakin kuat pula dorongan untuk mengejar. Siklus semacam ini dapat memengaruhi kepuasan, dukungan, komunikasi, dan kemampuan pasangan mengelola konflik. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakamanan dalam kelekatan berkaitan dengan pola regulasi emosi yang berbeda ketika individu maupun pasangannya menghadapi tekanan.
Lalu, apakah avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) dapat menyebabkan anxiety (kecemasan)? Jawabannya tidak sesederhana hubungan sebab-akibat langsung. Berbagai penelitian memang menemukan hubungan antara ketidakamanan dalam kelekatan dan kesehatan mental yang lebih buruk, tetapi sebuah hubungan statistik tidak otomatis berarti bahwa satu faktor menjadi satu-satunya penyebab faktor lainnya. Meta-analisis terhadap 224 penelitian menemukan hubungan yang konsisten antara ketidakamanan kelekatan pada orang dewasa dan berbagai indikator kesehatan mental. Namun, kekuatan hubungannya dapat berbeda antara kecenderungan menghindari kedekatan dan kecenderungan mencemaskan hubungan.
Karena itu, media sosial perlu berhati-hati ketika mengubah istilah psikologi menjadi diagnosis instan. Tidak membalas pesan selama beberapa jam bukan bukti seseorang memiliki avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional). Menyukai waktu sendirian juga tidak otomatis menunjukkan masalah kelekatan. Begitu pula, merasakan anxiety (kecemasan) sesekali tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan psikologis. Psikologi membutuhkan pemahaman terhadap pola yang relatif konsisten, konteks kehidupan, intensitas masalah, serta dampaknya terhadap fungsi dan kesejahteraan seseorang. Satu perilaku tidak cukup untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan psikologis manusia.
Hal yang lebih bermanfaat bukanlah sibuk bertanya, “Apakah pasangan saya seorang penghindar?”, tetapi mulai memperhatikan pola hubungan yang benar-benar terjadi. Apakah kita terbiasa menarik diri ketika percakapan menjadi emosional? Apakah kedekatan terasa seperti kehilangan kebebasan? Apakah kita sulit meminta bantuan bahkan ketika benar-benar membutuhkannya? Apakah pasangan merasa harus mengejar kita agar mendapat respons? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih berguna daripada sekadar menempelkan label.
Pada akhirnya, memahami pola kelekatan seharusnya membantu manusia mengenali dirinya, bukan menghakimi orang lain. Avoidant attachment (pola kelekatan yang cenderung menghindari kedekatan emosional) bukan identitas tetap, bukan alasan untuk menyalahkan semua masalah hubungan kepada pasangan, dan bukan pula diagnosis gangguan mental. Begitu juga dengan anxiety (kecemasan), yang perlu dipahami berdasarkan tingkat, konteks, durasi, dan dampaknya. Hubungan yang lebih sehat tidak dibangun dengan menjadi “detektif gaya kelekatan”, melainkan dengan belajar mengenali kebutuhan diri, mengomunikasikan batas secara jelas, menghadapi emosi tanpa selalu melarikan diri, serta secara bertahap membangun rasa aman dalam kedekatan.
Daftar Pustaka
Fraley, R. C., Waller, N. G., & Brennan, K. A. (2000). An item response theory analysis of self-report measures of adult attachment. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 350–365. doi: 10.1037/0022-3514.78.2.350
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2019). Attachment orientations and emotion regulation. Current Opinion in Psychology, 25, 6–10. doi: 10.1016/j.copsyc.2018.02.006
Mosannenzadeh, F., Luijten, C. C., Dujardin, A., De Winter, S., Vansteenkiste, M., & Luyten, P. (2024). Adult attachment and emotion regulation flexibility in romantic relationships. Behavioral Sciences, 14(9), 758. doi: 10.3390/bs14090758
Simpson, J. A., & Rholes, W. S. (2017). Adult attachment, stress, and romantic relationships. Current Opinion in Psychology, 13, 19–24. doi: 10.1016/j.copsyc.2016.04.006