Mahasiswa Psikologi UNESA Implementasikan Pendekatan Psikologis melalui Program PERSONA bagi Anak Yatim Piatu
SIDOARJO — Anak-anak yatim piatu di Sidoarjo berhasil menampilkan ragam karya seni ekspresif pada puncak Program PERSONA (Pengembangan dan Pemberdayaan Potensi Anak) yang diselenggarakan di Dewan Kesenian Sidoarjo, Minggu (19/7/2026). Kegiatan unjuk bakat bertajuk PENAMPIL ini merupakan puncak dari rangkaian program yang dikembangkan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Program PERSONA dirancang secara khusus sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk mengenali diri, meregulasi emosi, mengembangkan potensi, dan membangun keberanian tampil di hadapan publik.
Mengusung semboyan "Bersama PERSONA: Mengenali Diri, Mengembangkan Potensi, Meraih Prestasi," intervensi ini memadukan pendekatan psikologi dengan medium seni dan budaya berupa Wayang Fabel. Program ini tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui tahapan berkesinambungan yang terstruktur. Prosesnya diawali dengan pre-test untuk mengukur baseline self-confidence dan self-concept anak-anak. Setelah itu, peserta masuk ke tahap PECITA (ruang refleksi diri untuk mengenali emosi dan potensi), dilanjutkan dengan PENARUPA (pengembangan karakter Wayang Fabel, tari, dan drama sebagai media katarsis dan ekspresi), lalu PENEMPA (pelatihan intensif komunikasi dan keberanian), hingga bermuara pada tahap PENAMPIL.
Zatria Jabar Anggoro, mahasiswa S1 Psikologi UNESA yang bertindak sebagai Project Leader PERSONA, menekankan bahwa puncak kegiatan ini adalah perayaan atas proses psikologis yang telah dilalui peserta. Ia menjelaskan bahwa program ini diimplementasikan menggunakan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD). "Kami tidak ingin memulai dengan bertanya tentang apa yang kurang dari seorang anak, tetapi kami ingin mulai dari apa yang sudah mereka miliki," ujarnya. Melalui pendekatan ABCD ini, fokus pengembangan dititikberatkan pada aset personal anak seperti karakter, minat, dan kreativitas, yang sangat erat kaitannya dengan penguatan self-concept.
Hal senada juga disampaikan oleh Vice Project Leader, Retaf Prakoso Al Mahdi, mahasiswa S1 Sastra Inggris Unesa. Menurutnya, program ini dirancang agar setiap anak menyadari bahwa mereka memiliki potensi yang layak dikembangkan. Melalui dinamika kelompok dalam seni dan budaya, anak-anak belajar bekerja sama dan berani menunjukkan kemampuan yang sebelumnya mungkin terpendam.
Perkembangan rasa percaya diri tersebut tampak jelas pada puncak acara PENAMPIL. Para peserta dengan berani melenggang dalam fashion show, menampilkan Tari Fauna, mementaskan kisah Wayang Fabel hasil kreasi mereka, serta melakukan pertunjukan drama dan flashmob. Setiap peserta juga diberikan selempang apresiasi sebagai bentuk positive reinforcement atas proses mereka selama ini. Karya-karya mereka selama program pun turut dipamerkan kepada para tamu undangan.
Keberhasilan program pemberdayaan ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa Psikologi UNESA dengan berbagai pihak, termasuk dukungan pendanaan dan pendampingan dari PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk dan Yayasan Edufarmers Internasional melalui Program Beasiswa JAPFA untuk Anak Negeri. Acara ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo, dosen pendamping Fakultas Psikologi UNESA yaitu Qurrota A’yuni Fitriana, M.Psi., Psikolog, mentor yaitu Ndaru Kartiko Aji, KADIN Sidoarjo, dan Ibu Erik yang merupakan pengasuh Panti Asuhan Nusantara Bhakti Wira Nagara.
Sebagai bentuk evaluasi dan pertanggungjawaban ilmiah, tim PERSONA akan melakukan post-test guna mengukur secara kuantitatif tingkat perkembangan self-confidence dan self-concept anak-anak pasca-intervensi. Selain itu, seluruh konsep, metode, dan tahapan program ini didokumentasikan ke dalam sebuah modul panduan. Modul ini diharapkan dapat menjadi rujukan komprehensif bagi praktisi maupun akademisi lain yang ingin mengimplementasikan pemberdayaan anak melalui integrasi ilmu psikologi, seni, dan budaya.
Pelaksanaan Program PERSONA menjadi wujud nyata komitmen lintas sektor terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Program ini secara langsung mendukung Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3) melalui pendampingan psikologis yang menyediakan ruang aman bagi anak untuk meregulasi emosi. Selain itu, inisiatif ini turut mendorong Pendidikan Bermutu (SDG 4) dengan memberikan pendidikan karakter non-formal yang inklusif untuk meningkatkan life skills dan rasa percaya diri. Dengan memberdayakan kelompok rentan seperti anak yatim piatu, program ini juga berkontribusi pada Berkurangnya Kesenjangan (SDG 10), memastikan mereka mendapat peluang yang setara untuk tampil dan berprestasi di masyarakat. Seluruh dampak positif ini dapat terwujud berkat kuatnya Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (SDG 17) antara pihak akademisi, sektor swasta, organisasi non-profit, hingga pemerintah daerah.