Manajemen Waktu Jadi Kunci Sukses Raih Studi Luar Negeri, Dosen Psikologi UNESA Bagikan Strateginya
Fakultas Psikologi UNESA – Keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri menjadi impian banyak mahasiswa. Namun, di balik impian tersebut terdapat proses panjang yang membutuhkan persiapan matang, mulai dari prestasi akademik, kemampuan bahasa asing, pengalaman organisasi, hingga portofolio. Menurut dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Vania Ardelia, S.Psi., M.Sc., seluruh proses tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa kemampuan manajemen waktu yang baik.
Vania, yang merupakan dosen pada klaster Psikologi Sosial Fakultas Psikologi UNESA, memiliki rekam jejak akademik yang menginspirasi. Setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Psikologi di Universitas Airlangga, ia melanjutkan studi Magister Clinical Psychology di University of Groningen, Belanda, sebagai penerima Beasiswa LPDP 2017. Saat ini, fokus penelitiannya berada pada bidang cyberpsychology dan social psychology, dengan berbagai publikasi ilmiah di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Vania, tantangan terbesar yang sering dihadapi mahasiswa dalam mengatur waktu bukanlah banyaknya aktivitas, melainkan kesulitan menentukan prioritas. Akibatnya, mahasiswa berusaha mengerjakan semua hal secara bersamaan sehingga tidak ada yang terselesaikan secara maksimal. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan berbagai distraksi, seperti penggunaan media sosial yang berlebihan maupun aktivitas lain yang menyita perhatian.
"Tantangan yang paling sering dialami mahasiswa adalah sulit menentukan mana yang benar-benar menjadi prioritas. Akhirnya semua ingin dikerjakan sekaligus, tetapi tidak ada yang maksimal. Belum lagi distraksi dari media sosial atau kegiatan lain yang menyita waktu," ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Vania menyarankan mahasiswa mulai menetapkan target yang jelas, menyusun jadwal yang realistis, serta rutin mengevaluasi pencapaian yang telah dilakukan. Dengan cara tersebut, mahasiswa dapat lebih fokus dalam menjalankan setiap tanggung jawab tanpa merasa kewalahan.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu bekal penting bagi mahasiswa yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Menurutnya, persiapan studi internasional tidak hanya bergantung pada Indeks Prestasi Kumulatif (IPK), tetapi juga memerlukan pengembangan kemampuan bahasa Inggris, pengalaman organisasi, keterlibatan dalam penelitian, hingga penyusunan portofolio yang kompetitif.
"Persiapan studi ke luar negeri bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga kemampuan bahasa Inggris, pengalaman organisasi atau penelitian, hingga membangun portofolio. Semua itu membutuhkan proses yang panjang, jadi tanpa manajemen waktu yang baik akan cukup sulit untuk mempersiapkannya secara optimal," jelasnya.
Dalam praktiknya, Vania menyarankan mahasiswa menjadikan perkuliahan sebagai prioritas utama. Setelah itu, mahasiswa dapat memilih kegiatan organisasi yang benar-benar memberikan manfaat bagi pengembangan diri, kemudian menyisihkan waktu secara konsisten untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mengikuti kompetisi, maupun membangun portofolio.
Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh durasi belajar yang panjang setiap hari, melainkan oleh konsistensi dalam menjalankan kebiasaan positif. Menurutnya, kemajuan kecil yang dilakukan secara berkelanjutan akan menghasilkan perkembangan yang signifikan di masa depan.
Sebagai strategi praktis, Vania merekomendasikan mahasiswa untuk menetapkan target jangka panjang yang kemudian dipecah menjadi target bulanan, mingguan, hingga harian. Dengan demikian, tujuan besar akan terasa lebih mudah dicapai. Ia juga mendorong mahasiswa memanfaatkan kalender digital maupun aplikasi planner untuk mencatat tenggat waktu serta melakukan evaluasi rutin terhadap progres yang telah dicapai.
Di akhir wawancara, dosen yang aktif melakukan penelitian mengenai perilaku digital, media sosial, dan kesehatan mental ini turut memberikan motivasi kepada mahasiswa Fakultas Psikologi UNESA agar tidak takut memulai langkah menuju impian studi luar negeri.