Pimpinan Fakultas Psikologi UNESA Ikuti Kolokium Khusus AP2TPI XXXII, Soroti Tantangan Era AI Generatif
BANDUNG — Jajaran pimpinan Fakultas Psikologi
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) turut berpartisipasi aktif dalam forum
strategis Kolokium Khusus Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi
Indonesia (AP2TPI) ke-XXXII. Pertemuan tingkat nasional ini diselenggarakan
selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat (22–24 Juli 2026), bertempat di éL
Hotel Bandung.
Pada penyelenggaraan tahun ini, Kolokium AP2TPI merespons
dinamika teknologi global dengan mengangkat tema yang sangat relevan dan
mendesak, yakni "Pendidikan Tinggi Psikologi Berdampak dan
Terdampak: Peluang dan Tantangan di Era Generative AI". Tema ini
secara khusus menyoroti bagaimana kehadiran Kecerdasan Buatan Generatif (Generative
AI) tidak hanya memengaruhi lanskap perilaku dan kesejahteraan masyarakat
luas, tetapi juga mendisrupsi dan menuntut transformasi di dalam sistem
pendidikan tinggi psikologi itu sendiri.
Kehadiran segenap pimpinan Fakultas Psikologi UNESA dalam
forum ini merupakan bentuk komitmen kuat institusi dalam menjaga dan
meningkatkan mutu pendidikan di tengah arus digitalisasi. Dalam diskusi dan
lokakarya yang berlangsung, delegasi UNESA bersama pimpinan fakultas psikologi
dari berbagai universitas di Indonesia saling bertukar gagasan untuk mengkaji
peluang pemanfaatan AI dalam pengajaran dan penelitian.
Kolokium yang berlangsung khidmat dan produktif ini
diharapkan mampu melahirkan resolusi serta rekomendasi kebijakan bagi seluruh
penyelenggara pendidikan tinggi psikologi di Indonesia. Melalui sinergi lintas
kampus ini, pendidikan tinggi psikologi di Tanah Air diproyeksikan akan semakin
adaptif, tangguh, dan terus memberikan dampak nyata bagi pembangunan sumber
daya manusia Indonesia di masa depan.
Partisipasi aktif Fakultas Psikologi UNESA dalam forum
AP2TPI ini juga menjadi wujud nyata komitmen institusi terhadap pencapaian
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Keterlibatan ini secara langsung
mendukung terwujudnya Pendidikan Bermutu (SDG 4) dengan
memastikan kurikulum pendidikan tinggi psikologi terus dievaluasi agar tetap
relevan, berkualitas, dan mampu membekali mahasiswa dengan keterampilan di era
digital tanpa mengesampingkan etika keilmuan. Selain itu, upaya merespons
inovasi teknologi secara kritis dan mengintegrasikan kecerdasan buatan ke dalam
praktik tridarma perguruan tinggi merupakan bentuk dorongan terhadap
penguatan Industri, Inovasi, dan Infrastruktur (SDG 9). Keseluruhan
langkah adaptif tersebut dapat terwujud berkat kuatnya Kemitraan untuk
Mencapai Tujuan (SDG 17), di mana sinergi lintas perguruan tinggi
se-Indonesia dalam wadah AP2TPI menjadi instrumen utama untuk merumuskan
standar etika, panduan, dan kebijakan bersama dalam menghadapi tantangan
teknologi global