Rahmah Putri Puspitasari: Membangun Karier di Dunia Klinis dan Pendidikan
Rahmah Putri Puspitasari, M.Psi., Psikolog merupakan alumni Psikologi UNESA angkatan pertama tahun 2007. Saat ini, ia menjalani berbagai peran sekaligus, mulai dari psikolog sekolah, dosen Fakultas Psikologi Universitas Darul Ulum Jombang, hingga pimpinan sekaligus psikolog di Klinik Tumbuh Kembang Kuncup Bunga Harapan Jombang. Perjalanan kariernya menunjukkan bahwa lulusan psikologi dapat berkontribusi di berbagai bidang, baik pendidikan maupun layanan kesehatan mental.
Meski saat menempuh pendidikan S1 Rahmah mengambil peminatan Psikologi Perkembangan, ketertarikannya pada bidang klinis justru tumbuh setelah lulus kuliah. Ketika bergabung dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi perempuan dan anak korban kekerasan, ia memperoleh pengalaman yang semakin memperkuat minatnya pada psikologi klinis. Pengalaman selama lebih dari dua tahun tersebut menjadi titik awal yang mendorongnya untuk mendalami bidang tersebut.
Menurutnya, mendampingi klien membuat dirinya menyadari bahwa ia ingin berkontribusi lebih dalam, tidak hanya sebatas memberikan konseling, tetapi juga melakukan intervensi psikologis secara profesional. Keinginan tersebut mendorongnya melanjutkan studi Profesi Psikologi di UBAYA. Selama menjalani profesinya, Rahmah mengaku semakin yakin bahwa dunia klinis adalah bidang yang paling sesuai dengan dirinya.
“Awalnya saya mengira psikologi klinis itu rumit dan sangat sulit. Tapi setelah terjun langsung, ternyata hati saya ada di situ. Ketika menangani kasus-kasus klinis, saya justru merasa bersemangat,” ujarnya.
Selain sebagai psikolog, Rahmah juga menemukan kebahagiaan dalam dunia pendidikan. Ia mengaku awalnya tidak menyangka kegiatan mengajar akan menjadi aktivitas yang sangat ia nikmati. Namun, setelah menjadi dosen, ia justru merasakan energi dan semangat baru ketika melihat mahasiswa memperoleh pemahaman dan wawasan baru dari materi yang disampaikan.
“Ketika saya selesai mengajar atau membimbing mahasiswa, rasanya ada sesuatu yang membuat saya menjadi mood booster. Saya justru merasa lebih berenergi,” ungkapnya.
Bagi Rahmah, setiap peran yang dijalani memberikan pelajaran yang berbeda. Saat bekerja di sekolah dan mendampingi anak berkebutuhan khusus, ia belajar tentang ketulusan dan cara memandang manusia secara lebih utuh. Sementara itu, aktivitas mengajar memberinya kesempatan untuk berbagi ilmu sekaligus terus belajar dari mahasiswa dan lingkungan akademik.
Ketertarikan Rahmah terhadap psikologi sudah muncul sejak masa sekolah. Kegemarannya membaca novel dan komik misteri serta memecahkan berbagai kasus membuatnya tertarik pada dunia psikologi. Ketertarikan tersebut semakin diperkuat ketika sepupunya yang menempuh pendidikan di bidang yang sama mengenalkan dunia psikologi kepadanya. Dukungan keluarga kemudian mengantarkannya menjadi bagian dari angkatan pertama Psikologi UNESA pada tahun 2007.
Sebagai alumni angkatan pertama, Rahmah menyaksikan secara langsung perkembangan Fakultas Psikologi UNESA dari masa ke masa. Menurutnya, pertumbuhan fakultas yang begitu pesat tidak lepas dari dedikasi para dosen dan tenaga kependidikan yang terus berupaya membangun lingkungan belajar yang berkualitas.
Dalam perjalanan kariernya, Rahmah juga menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika mendampingi anak berkebutuhan khusus dan berkomunikasi dengan orang tua mereka. Ia menjelaskan bahwa tidak semua orang tua memiliki kesiapan mental atau pemahaman yang cukup mengenai kondisi anaknya. Karena itu, dibutuhkan komunikasi, koordinasi, serta penguatan yang berkelanjutan agar semua pihak dapat bekerja sama demi kesejahteraan anak.
Kepada mahasiswa Psikologi UNESA, Rahmah berpesan agar tidak ragu mengembangkan diri dan berkiprah di daerah asal masing-masing. Menurutnya, kebutuhan akan sarjana psikologi dan psikolog di berbagai daerah masih sangat besar sehingga peluang untuk memberikan dampak kepada masyarakat juga semakin luas.
Sebagai seorang psikolog, Rahmah berpesan kepada para psikolog di luar sana untuk tetap memperhatikan kesejahteraan psikologis dirinya sendiri sebelum membantu orang lain. Baginya, ketika seseorang telah mampu menjaga kesejahteraan psikologisnya, ia akan lebih mampu memahami dan memanusiakan manusia lain dengan lebih baik.
“Sebelum menolong orang lain, kita harus menolong diri kita dahulu,” ujarnya.
Perjalanan Rahmah Putri Puspitasari menunjukkan bahwa passion, kemauan untuk terus belajar, dan keberanian mengambil peluang dapat membuka jalan untuk berkontribusi di berbagai bidang sekaligus. Kisah ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-Being melalui upaya peningkatan kesehatan mental masyarakat serta SDG 4: Quality Education melalui kontribusinya di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.