Terjebak dalam Gulir Tanpa Akhir: Media Sosial dan Dopamine Trap
Tanpa terasa, media sosial sudah menyatu dengan keseharian mahasiswa. Kita menggunakannya untuk mencari informasi kuliah, membangun jejaring, berkomunikasi, hingga sekadar melepas penat. Masalahnya, aktivitas yang awalnya memiliki tujuan dapat berubah menjadi kebiasaan membuka aplikasi secara otomatis. Kondisi ini sering disebut dopamine trap, yaitu siklus ketika seseorang terus mengulangi perilaku karena mengharapkan imbalan yang menyenangkan. Istilah tersebut bukan diagnosis klinis, sedangkan dopamin sendiri bukan sekadar “hormon kebahagiaan”, melainkan zat kimia otak yang berperan dalam motivasi, pembelajaran berbasis imbalan, dan dorongan untuk mengulangi suatu perilaku.
Notifikasi, likes, komentar, video pendek, dan fitur infinite scrolling membuat media sosial selalu menawarkan sesuatu yang baru. Penelitian Meshi, Morawetz, dan Heekeren (2013) menemukan bahwa umpan balik sosial yang positif berkaitan dengan aktivitas nucleus accumbens, bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan imbalan. Respons pada area tersebut juga berhubungan dengan intensitas penggunaan Facebook. Sementara itu, Sherman dkk. (2016) menemukan bahwa remaja lebih tertarik memberikan respons pada unggahan yang memiliki banyak likes. Namun, temuan tersebut tidak berarti bahwa setiap like secara langsung membuat seseorang kecanduan; penelitian berbasis pemindaian otak menunjukkan aktivitas pada sistem imbalan, bukan mengukur pelepasan dopamin secara langsung.
Ketika pola tersebut berlangsung berulang-ulang, penggunaan media sosial dapat berubah dari aktivitas yang disengaja menjadi kebiasaan yang sulit dikendalikan. Seseorang mungkin merasa gelisah ketika jauh dari ponsel, terus mencari konten baru meskipun tidak lagi menikmatinya, atau membuka media sosial setiap kali merasa bosan. Ironisnya, kebiasaan berpindah dari satu video ke video lain belum tentu menghilangkan kebosanan. Melalui tujuh eksperimen, Tam dan Inzlicht (2024) menemukan bahwa kebiasaan melewati atau berganti-ganti video justru dapat membuat seseorang merasa semakin bosan, kurang terlibat, dan kurang puas terhadap konten yang ditonton.
Dampaknya dapat merambah ke kesehatan mental, kualitas tidur, dan kehidupan akademik. Tinjauan sistematis dan meta-analisis oleh Ahmed dkk. (2024) menemukan adanya hubungan kecil tetapi signifikan antara penggunaan media sosial dengan depresi dan kecemasan, sementara penggunaan yang problematik juga berkaitan dengan masalah tidur dan rendahnya kesejahteraan psikologis. Di lingkungan perkuliahan, kebiasaan memeriksa notifikasi dapat memecah konsentrasi, mendorong prokrastinasi, dan membuat mahasiswa terus beralih antara tugas dan media sosial. Tinjauan terhadap 66 penelitian oleh Lax dkk. (2026) juga menunjukkan bahwa media multitasking lebih sering berhubungan negatif dengan prestasi akademik, meskipun sebagian besar pengaruhnya tergolong kecil.
Meski begitu, media sosial tidak otomatis menjadi musuh kesehatan mental. Valkenburg (2022) menunjukkan bahwa hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan kesejahteraan psikologis cenderung lemah atau tidak konsisten. Dampaknya dapat berbeda-beda, tergantung pada karakteristik penggunanya, jenis aktivitas yang dilakukan, konten yang dikonsumsi, dan konteks sosialnya. Karena itu, persoalan utamanya bukan sekadar berapa lama seseorang menatap layar, tetapi apakah ia masih mampu mengendalikan penggunaannya tanpa mengorbankan tidur, belajar, hubungan sosial, dan aktivitas sehari-hari.
Rekomendasi: Beri batas yang sehat saat belajar dan menjelang tidur agar media sosial tetap menjadi alat, bukan pengendali.
Daftar Pustaka
Ahmed, O., Walsh, E. I., Dawel, A., Alateeq, K., Espinoza Oyarce, D. A., & Cherbuin, N. (2024). Social media use, mental health and sleep: A systematic review with meta-analyses. Journal of Affective Disorders, 367, 701–712. https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.193
Lax, M., Mölsä, M. E., Korhonen, J., & Söderberg, P. (2026). Media multitasking and academic achievement among different educational levels: A scoping review. Discover Education, 5, Article 29. https://doi.org/10.1007/s44217-025-01028-x
Meshi, D., Morawetz, C., & Heekeren, H. R. (2013). Nucleus accumbens response to gains in reputation for the self relative to gains for others predicts social media use. Frontiers in Human Neuroscience, 7, Article 439. https://doi.org/10.3389/fnhum.2013.00439
Sherman, L. E., Payton, A. A., Hernandez, L. M., Greenfield, P. M., & Dapretto, M. (2016). The power of the like in adolescence: Effects of peer influence on neural and behavioral responses to social media. Psychological Science, 27(7), 1027–1035. https://doi.org/10.1177/0956797616645673
Tam, K. Y. Y., & Inzlicht, M. (2024). Fast-forward to boredom: How switching behavior on digital media makes people more bored. Journal of Experimental Psychology: General, 153(10), 2409–2426. https://doi.org/10.1037/xge0001639
Valkenburg, P. M. (2022). Social media use and well-being: What we know and what we need to know. Current Opinion in Psychology, 45, Article 101294. https://doi.org/10.1016/j.copsyc.2021.12.006